11 Februari 2011 - 20:30

Isu perpecahan antara Hauzah dan Univeritas adalah salah satu isu yang diusung barat agar mereka bisa turut campur dalam rumah tangga Negara-negara Muslim.

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Uzhma Nuri Hamadani  pada Seminar dengan tema “Wilayah, Bashirah dan Wahdah antara Hauzah dan Universitas” dihadapan para ulama dan tenaga pengajar Hauzah dan Universitas Khuzistan bertempat di Masjid A’zam Hauzah Ilmiah Imam Khumaini Ahwaz  menyampaikan,” Setelah membuat perpecahan antara Hauzah dan Universitas mereka akan membujuk pemuda-pemuda dari Universitas kita untuk belajar kesana dan pemikiran Islami pemuda itu mereka ubah dengan pemikiran Sekuler, selain itu mereka juga akan mencuci otak pemuda-pemuda tersebut sehingga mereka mau menjual harga diri mereka dengan sesuatu yang tidak berharga."

Beliau menilai bahwa permusuhan Barat pada Islam itu tidak akan pernah berhenti dan menambahkan,” Barat senantiasa menunjukkan permusuhan mereka pada Islam dengan berbagai cara, mereka membuat berbagai macam program untuk mencegah kemajuan dan pencapaian Islam pada tujuannya serta mereka tempatkan dalam agenda perencanaan pemerintahan mereka. Dimana pelemahan Islam merupakan program mereka yang paling utama.”

Selanjutnya beliau berkata,”Barat menyadari bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyuruh umat Islam untuk mencegah orang-orang Kafir menguasai mereka dari segi  politik, sosial, ekonomi, budaya, dan mereka dicegah untuk berkecenderungan pada Barat (negara kafir). Dari sisi ini maka agama Islam menjadi penghalang terbesar usaha pengukuhan kekuasaan Barat di dunia Islam karena itu mereka berusaha melemahkan kekuatan dan juga berupaya melakukan tahrif (perubahan) dalam agama Islam."

Pengajar Bahtsul Kharij ini mengisyaratkan pada perbedaan sisi keilmuan dan ilmu Islam pada tahun-tahun pertama diberbagai sisi Dunia,” Ketika Islam memiliki ilmuan-ilmuan besar saat itu Amerika, Eropa dan berbagai tempat lain masih berada dalam kegelapan dan kebodohan. Pada masa itu tidak ada peninggalan buku, tulisan, ilmu, perpustakaan dan semacamnya sedang pada masa kejayaan Islam ada ulama-ulama besar seperti Ibnu Sina, Jabir Bin Hayan, Farabi, Haje Naysirudin Thusi yang melakukan kebangkitan keilmuan, dalam keilmuan mereka telah berhasil membangun perpustakaan dan Hauzah Ilmiah."

Pada sesi lain dalam pemaparannya beliau menyampaikan,” Setelah Negara-negara Islam berada dibawah bayang-bayang Barat dan segala hal yang mereka miliki telah hilang Allah SWT mengaruniakan seorang anak pemberani dari Hauzah Ilmiah, seorang ahli fikh yang mengenal dunia dan mengenal zamannya, penggaung suara keadilan yang teguh, pejihad yang berkemampuan dan pemenang dalam medan aplikasi maupun tulisan yaitu Imam Khomaini qs, beliau membawa aroma Muhammadi ketengah-tengah kehidupan masyarakat, ketakutan pada Barat pun berkat beliau menjadi musnah dan beliau telah menyingkap wajah penipuan Barat."

Marja Taqlid ini mensifati bahwa kekalnya ilmu dengan dasar Iman,”  Budaya Islam berdasarkan Ilmu yang berhiaskan keimanan, kesinambungan maknawiyah dengan akhlak, materi dan industri, keutuhan kekuatan dengan keadilan dan kejujuran, dan budaya ini sangat jauh dari sekulerisme yang sangat marak di Barat, dan Islam diciptakan dengan budaya indah itu.”

Terkait Negara Iran beliau meriwayatkan sebuah riwayat dari Nabi Muhammad saw beliau berkata,” Kebanggaan Negara Iran dalam hal ini bahwa Nabi berkata,”Jika ilmu ada di langit maka masyarakat dari Persia akan sampai ketempat itu, dan begitu juga keimanan, jika ada dilangit maka masyarakat Persia akan mampu mencapainya”” dalam riwayat lain disebutkan bahwa barisan pertama tentara Almahdi af selalu dari orang-orang Persia.”(*)